Kota Cilegon, (LC)- Kota Cilegon yang telah berusia 25 tahun sejak memisahkan diri dari Kabupaten Serang, ternyata menyimpan banyak legenda dibidang olahraga.
Salah satunya adalah mantan pemain sekaligus juga pelatih serta pengurus bola volly. Dimana saat ini dirinya menjabat sebagai kepala Inspektorat Inspektur Kota Cilegon, Mahmudin.
Hadir sebagai tamu undangan dalam acara Bimtek Pendampingan Gizi bagi Pelatih, ia bercerita sekilas tentang olahraga bola volly yang digelutinya, hingga dirinya masuk menjadi ASN.
“Dulu, sebelum Banten memisahkan diri dengan Jawa Barat, atlet Volly dari Serang, susah untuk masuk dalam tim inti. Namun ditahun 2000, Banten memisahkan diri, dan disitulah ada sebuah peluang dalam keolahragaan,”kata Mahmudin, Selasa, 29 Oktober 2024.
Ia menuturkan, peluang ada pada cabang olahraga bola volley. Dimana dirinya dituntut untuk mengembangkan bola volley di Banten.
“Saking cintanya, saya mau saja jadi pengurus bola volley. Mulai tingkat Pusat, Daerah dalam hal ini Banten juga Kota Cilegon,”ujarnya.
Menjadi atlet, kata dia, dirinya tidak pernah neko-neko. Disiplin dalam latihan serta mau bertanding dengan siapapun, dapat meningkatkan skill.
“Artinya begini, semasa menjadi atlet, saya sering latih tanding. Bahkan beberapa GOR di Jakarta, sudah saya jajaki untuk bermain volley. Bahkan saya pernah dipanggil main volley, bayarannya kerang sekarung,” kenangnya.
Sebagai pelatih, ujar mantan kepala BKPSDM, dirinya harus mengikuti trend masa kini. Dimana, dalam mendidik atlet bukan saja dari psikologis, namun melihat semua.
“Kalau dulu, latihan terus kemudian lakukan sparring. Sekarang, jangan sampai Latihan melulu tanpa sparring, kasihan kepada atlet,”tuturnya.
Ia menegaskan, tantangan yang dihadapi oleh pelatih saat ini, bagaimana mengupayakan agar atlet bisa maksimal dalam mengeluarkan potensinya.
“Karena atlet sekarang sudah ketergantungan dengan gadget. Makanya saya berpesan kepada para pelatih, agar terus melakukan inovasi dan menambah wawasan untuk membuat atlet berprestasi,”ungkap Mahmudin.
“Lakukan pendekatan kepada atlet, biasakan komunikasi dan bisa menjadi pendengar yang baik. Kemudian banyak-banyak belajar dari berbagai media platform yang tersedia di dunia maya, hingga bisa diterapkan dalam suasana pelatihan,”sambung Mahmudin. (Anto-Red)***
