CILEGON, (LC)- Danrem 064 Maulana Yusuf, Brigjen TNI Daru Cahyadi, mengunjungi giat Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD) ke 128 Kodim 0623 Cilegon, Selasa, 19 Mei 2026.
Berdasarkan pantauan dilapangan, perwira yang menyandang pangkat bintang satu dipundaknya langsung melihat progress pembangunan jalan di titik nol, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Pulomerak.
Selain meninjau pembangunan jalan, Danrem 064 Maulana Yusuf, Brigjen Daru Cahyadi juga berkesempatan melihat pembangunan muhsola dan juga Rutilahu.
Kunjungan Danrem 063 Maulana Yusuf ingin memastikan agar percepatan pembangunan infrastruktur fisik sesuai dengan harapan.
Dimana program ini turut membawa misi penguatan ekonomi kerakyatan dan pelestarian kearifan lokal masyarakat.
Salah satu yang membuat menarik adalah proyek renovasi tempat ibadah ini. Saat ini, Satgas TMMD menerapkan metode hibrida, yakni memadukan modernisasi struktur bangunan dengan material
“Jadi, bangunan mushola ini melalui pertimbangan matang yang menyangkut aspek teknis keamanan bangunan, kenyamanan jemaah, sekaligus dampak sosial ekonomi bagi warga sekitar, sekaligus mendukung program pemerintah yakni gentengisasi,”katanya.
Ia menuturkan, ada beberapa item pekerjaan rehabilitasi di mushola ini yang menjadi prioritas. Bagian rangka atap lama yang semula sudah lapuk dan rapuh diganti total menggunakan baja ringan agar lebih kokoh dan aman dalam jangka panjang.
“Namun, untuk penutup atap atau gentengnya, kami berkomitmen tetap menggunakan genteng tanah liat tradisional,” ujarnya.
Keputusan untuk mempertahankan penggunaan genteng tanah liat, ujar dia, di tengah gempuran material modern seperti spandek atau asbes didasari oleh tiga pilar utama.
Kebijakan ini, ucap dia, secara langsung berdampak pada perputaran ekonomi di tingkat bawah. Satgas TMMD sengaja menyerap material dari para pengusaha dan pengrajin genteng lokal agar mereka menerima dampak ekonomi langsung dari anggaran stimulan program ini.
“Secara teknis, genteng tanah liat terbukti jauh lebih efektif dalam meredam bising saat hujan deras dibandingkan material logam. Karakteristik bahan tanah liat juga mampu menahan paparan panas matahari, sehingga ruangan di dalam mushola tetap sejuk dan mendukung kekhusyukan warga saat beribadah,”tuturnya.
Dansatgas TMMD 128 sekaligus Dandim 0623 Cilegon, Letkol Inf. Imam Buchoriu, mengatakan, penggunaan genteng tradisional dinilai menjaga keselarasan arsitektur bangunan ibadah dengan pemukiman warga di Lingkungan Langon yang mayoritas masih mempertahankan identitas visual tersebut dalam kearifan lokalnya.
“Kami mencoba semaksimal mungkin mengoptimalkan potensi daerah. Melalui langkah ini, para pengrajin genteng lokal mendapatkan dampak positif secara instan. Pembangunan berjalan, ekonomi rakyat di tingkat akar rumput pun ikut bergerak,”ungkapnya.
(Himawan Sutanto-Red)***
