CILEGON, (LC)- Di banyak kota, musik lahir dari romantisme. Di Cilegon, musik lahir dari suara mesin. Asap pabrik naik seperti latar permanen langit kota industri.
Besi dilebur setiap hari, pekerja datang dan pergi dalam ritme shift, dan kebisingan menjadi bahasa yang paling jujur. Dari ruang sosial seperti itulah Nekronz tumbuh. Bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai respons.
Nekronz bukan band yang mencoba terdengar nyaman. Mereka memilih menjadi suara yang mengganggu.
Sejak terbentuk pada 2010, Nekronz memposisikan diri di jalur musik ekstrem “crustgrind”. Subgenre yang memadukan grindcore dengan semangat punk crust yang politis dan anti-kemapanan.
Bagi banyak orang luar, grindcore hanya terdengar seperti kebisingan. Tetapi bagi skena underground, itu adalah bahasa protes.
Cilegon memberi konteks yang kuat. Kota baja ini bukan sekadar lokasi geografis, tetapi identitas sonik. Distorsi gitar mereka terasa seperti mesin industri yang dipaksa bekerja tanpa henti. Tempo cepat menyerupai denyut kota pekerja. Dan vokal yang kasar menjadi metafora kemarahan kolektif.
Nekronz tidak sedang membuat lagu. Mereka sedang mendokumentasikan realitas.
Perjalanan mereka dimulai dari panggung kecil: gig komunitas, ruang alternatif, dan acara bawah tanah yang sering kali lebih banyak debu daripada lampu sorot.
Tanpa manajemen besar atau strategi industri musik, Nekronz berkembang melalui jaringan DIY internasional melalu8 sistem distribusi klasik skena ekstrem dunia.
Rilisan mereka masuk kompilasi lintas negara, hingga EP pertama berhasil dirilis label independen di Polandia.
Bagi band underground, itu bukan sekadar pencapaian. Itu pengakuan komunitas global.
Tidak ada kampanye besar. Tidak ada viral marketing. Hanya kaset, CD, file digital, dan rekomendasi dari satu skena ke skena lain.
Single terbaru mereka, “Keluh Kesah,” menjadi fase baru perjalanan Nekronz.
Lagu ini berbicara tentang kegelisahan sosial, tentang rakyat yang terus menanggung dampak kebijakan, tentang jarak antara kekuasaan dan kehidupan nyata masyarakat. Liriknya pendek, hampir seperti slogan demonstrasi.
Tidak bertele-tele. Tidak simbolik berlebihan. Langsung menghantam.
Secara musikal, Nekronz tetap setia pada estetika raw. Produksi tidak dibuat steril. Noise tetap dibiarkan hidup. Kesalahan kecil justru menjadi bagian dari kejujuran musik mereka.
Karena bagi mereka, musik ekstrem bukan soal kesempurnaan teknis, melainkan energi.
Seiring perjalanan waktu, formasi band mengalami perubahan, sesuatu yang lazim di skena underground. Saat ini Nekronz diperkuat oleh Rhino di vokal dan Uyung di gitar, dengan dukungan drummer tambahan dalam produksi dan panggung.
Namun satu hal tidak berubah yaitu sikap.
Nekronz tetap berada di jalur independen, merilis karya melalui label dan platform DIY seperti Bandcamp, ruang digital yang masih memberi kebebasan bagi musisi underground untuk mempertahankan identitas tanpa kompromi industri.
Di era ketika banyak band berlomba masuk arus utama, Nekronz justru memilih bertahan di bawah tanah. Bukan karena tidak mampu naik, tetapi karena underground adalah posisi ideologis.
Mereka tidak mengejar popularitas. Mereka mengejar kejujuran.
Musik mereka mungkin tidak diputar di radio komersial. Tetapi di ruang gig sempit, di komunitas kecil, di headphone para pendengar setia skena ekstrem, Nekronz tetap hidup.
Dan mungkin di situlah kekuatan sebenarnya. Karena selama masih ada ketidakadilan, selama masih ada kemarahan sosial, musik seperti Nekronz akan selalu menemukan alasan untuk ada.
(Cahyo-Red)***
