CILEGON, (LC)- Pemandangan tak biasa terjadi dalam gelaran Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Data Pendidikan di Kota Cilegon.
Sebanyak 519 Operator Sekolah memadati ruangan hingga banyak peserta terpaksa duduk lesehan di lantai akibat keterbatasan kursi dan anggaran.
Meski dalam kondisi serba terbatas, semangat para operator yang dijuluki sebagai “pejuang data pendidikan” tetap menyala.
Mereka hadir penuh militansi demi memastikan masa depan pendidikan Cilegon berjalan berbasis data yang valid.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber langsung dari Tim Pengembang Dapodik Kemendikdasmen, Hasan Choiri Mahmud, serta dihadiri jajaran Dinas Pendidikan Kota Cilegon dan Ketua PGRI Kota Cilegon.
Ketua Forum Komunikasi Operator dan Tenaga Administrasi Sekolah (FKOTAS) Kota Cilegon, Herman, menegaskan bahwa perjuangan operator bukan sekadar pekerjaan administratif.
“DAPODIK bukan hanya aplikasi, tapi jantung sistem perencanaan pendidikan nasional,” tegas Herman.
Ia menjelaskan, seluruh data sekolah dikumpulkan melalui Dapodik, mulai dari peserta didik, guru, tenaga kependidikan, sarana prasarana, hingga rombongan belajar
“Penyaluran dana BOS, tunjangan guru, bantuan sarpras, semua bermuara dari data ini. Satu kesalahan kecil bisa berdampak panjang dan merugikan hak siswa maupun guru,” tambahnya.
Ketua PGRI Kota Cilegon, Bahrudin, mengaku terharu melihat dedikasi ratusan operator yang tetap fokus meski harus duduk di lantai.
“Saya melihat integritas luar biasa di ruangan ini. Operator rela lesehan demi memastikan data sekolahnya valid. Ini perjuangan nyata,” ujarnya.
Bahrudin juga menegaskan PGRI akan terus mengawal agar kesejahteraan operator mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
Sekretarus Dinas Pendidikan Humedi, menyampaikan bahwa keberhasilan program Cilegon Juara sangat bergantung pada ketelitian operator.
“Tanpa data valid di Dapodik, kami kesulitan memetakan kebutuhan rehabilitasi sekolah maupun distribusi guru. Kami berterima kasih atas kerja keras para operator,” ungkapnya.
Dalam sesi materi, narasumber Hasan Choiri Mahmud memaparkan pembaruan terbaru Dapodik versi terkini, sekaligus mengingatkan operator agar teliti terutama dalam sinkronisasi data kependudukan siswa.
“Sistem terus diperbarui untuk meminimalisir kesalahan. Pemahaman teknis yang seragam penting agar residu data anomali bisa kita nol-kan,” jelas Hasan.
Namun di balik semangat besar itu, muncul catatan penting. Ketua Pelaksana kegiatan, Deni Permana, menyinggung persoalan kesejahteraan operator yang kini justru terabaikan.
Dalam sambutannya, ia menyoroti bahwa insentif operator sekolah sebesar Rp450 ribu yang sebelumnya ada, kini dihapuskan.
“Operator adalah tulang punggung data pendidikan, tapi insentif mereka justru hilang. Ini harus menjadi perhatian bersama,” tegas Deni.
Kegiatan ini menjadi momentum penting transformasi tata kelola data pendidikan di Kota Cilegon. Keterbatasan fasilitas tak menyurutkan tekad para operator untuk menghadirkan data yang akurat, transparan, dan akuntabel demi pendidikan yang lebih maju.
(Anto-Red)***
