Bonus Demografi dan Bencana Demografi Di Kota Cilegon, Ini Pemahamannya

Oleh: Langit Cilegon
184 views
A+A-
Reset

Kota Cilegon, (LC)- Wakil Walikota Cilegon, Fajar Hadi Prabowo berkesempatan hadir pada acara wisuda sarjana Alkhairiyah.

Kehadiran orang nomor dua di kota Cilegon dengan memberi materi cukup menarik perhatian bagi para tamu undangan yang hadir.

Dikutip dari akun fesbuk Sayuti Zakaria, kehadiran Wakil Walikota Cilegon Fajar Hadi Prabowo membawa materi membuat dirinya terinspirasi hingga membuat sejumlah tulisan.

“Materi mas Wakil Walikota Cilegon, Mas Fajar Hadi Prabowo pada acara wisuda sarjana Alkhairiyah semalam, sarat dengan pesan yang mendalam. Ketika beliau menyinggung bonus demografi, beliau memberi kan informasi dan mengingatkan kita akan menjadi bagian bonus demografi atau bencana demografi,”katanya, Kamis, 20 November 2025.

Ia menuturkan, masih dari materi mas Wakil Walikota Cilegon Fajar Hadi Prabowo, bahwa Perubahan jumlah dan komposisi penduduk sebenarnya bukan sekadar angka. Di balik data statistik itu, terdapat cerita besar tentang masa depan sebuah bangsa.

“Ketika jumlah penduduk usia produktif lebih banyak daripada penduduk yang masih kecil atau sudah lansia, negara sedang menikmati apa yang disebut bonus demografi. Ini adalah kondisi ketika mayoritas penduduk sedang berada pada masa paling produktif dalam hidup mereka, masa ketika seseorang bekerja, berkarya, dan memberi kontribusi terbesar bagi ekonomi,”ujarnya.

Dalam materi itu juga diungkapkan, Jika dikelola dengan baik, bonus demografi bisa menjadi bahan bakar pertumbuhan. Bayangkan sebuah negara dengan jutaan anak muda yang terdidik, sehat, melek teknologi, dan siap bekerja.

“Banyak tenaga produktif berarti banyak peluang inovasi, banyak bisnis baru lahir, banyak ide segar muncul, dan ekonomi bisa melaju lebih cepat. Karena itu, masa bonus demografi sering disebut sebagai jendela kesempatan emas bagi negara,”tuturnya.

Namun,ujar dia, seperti dua sisi mata uang, kesempatan emas ini juga membawa potensi ancaman. Ketika negara tidak mampu menyediakan pendidikan yang memadai, lapangan kerja yang cukup, atau pelatihan keterampilan yang sesuai, jumlah penduduk usia produktif yang besar justru berubah menjadi beban. Inilah yang disebut bencana demografi.

“Bayangkan jika jutaan anak muda tidak tertampung kerja, maka akan muncul pengangguran massal, kemiskinan meningkat, bahkan potensi instabilitas social,”ucapnya.

Selain masalah pengangguran, tutur dia, bencana demografi juga bisa muncul saat populasi menua terlalu cepat. Banyak negara merasakan hal ini: penduduk lansia bertambah, sementara jumlah penduduk usia produktif menurun.

“Akibatnya, beban ekonomi meningkat, biaya kesehatan naik, dan produktivitas negara menurun. Jika kondisi seperti ini terjadi sebelum sebuah negara menjadi kaya atau stabil secara ekonomi, maka tantangannya akan jauh lebih berat,”kata tulisan Sayuti Zakaria dalam FB tersebut.

Indonesia saat ini sedang berada dalam periode bonus demografi yang sangat menentukan masa depan. Jumlah penduduk muda sangat besar, dan periode ini tidak akan berlangsung selamanya. Ada batas waktu sebelum struktur penduduk mulai bergeser ke arah populasi menua.

Karena itu, masa ini sangat berharga dan harus dimanfaatkan dengan maksimal. Kunci keberhasilannya terletak pada pendidikan, keterampilan, kesehatan, dan penciptaan lapangan kerja yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Pada akhirnya, bonus demografi atau bencana demografi bukanlah takdir tetap. Perbedaannya terletak pada bagaimana negara menyiapkan kualitas sumber daya manusianya. Dengan perencanaan yang tepat, bonus demografi dapat menjadi batu loncatan menuju negara maju.

“Namun tanpa persiapan, perubahan ini bisa berubah menjadi tantangan besar yang menghambat perkembangan bangsa. Maka tugas utama kita adalah memastikan bahwa peluang besar ini benar-benar menjadi berkah, bukan sebaliknya,”ungkapnya. (Anto-Red)***

REKOMENDASI BERITA

TINGGALKAN KOMENTAR