Kritik Bukan Kurang Ajar Tapi Tanda Peduli

Oleh: Langit Cilegon
7 views
A+A-
Reset

Direktur Fattah Cendekia Institute

Sayuti Zakaria

CILEGON, (LC)- Belakangan ini muncul narasi yang menyudutkan mahasiswa seolah kritik yang mereka sampaikan adalah bentuk ketidaksopanan dan tidak beretika.

Bahkan ada pihak yang menilai mahasiswa telah mencoreng marwah akademik hanya karena berani menyampaikan suara keras di ruang publik. Kami menilai, cara pandang seperti ini justru berbahaya bagi demokrasi dan kesehatan pemerintahan.

Mahasiswa sejak dahulu adalah kekuatan moral, agen perubahan, dan kontrol sosial terhadap jalannya kekuasaan.

Mereka bukan pelengkap seremoni, bukan penonton pembangunan, melainkan penjaga nurani publik. Ketika mahasiswa bersuara lantang, itu bukan karena mereka ingin gaduh, tetapi karena mereka melihat ada persoalan yang tidak boleh dibiarkan diam. Kritik adalah bagian dari tanggung jawab intelektual, bukan tindakan kriminal sosial.

Pernyataan yang menyebut mahasiswa “tidak beretika” hanya karena menyampaikan kritik keras perlu dilihat secara objektif.

Pemerintah memang membuka ruang dialog, sebagaimana disampaikan dalam pemberitaan bahwa Pemkot Cilegon disebut telah menyediakan forum diskusi publik dan wadah aspirasi mahasiswa.

 Namun membuka ruang dialog tidak berarti kritik harus dibatasi hanya pada forum yang nyaman bagi penguasa.

Demokrasi tidak bekerja dengan syarat “asal sopan menurut penguasa”, tetapi dengan jaminan kebebasan menyampaikan pendapat secara konstitusional.

Kita harus bedakan antara kritik dan penghinaan. Jangan semua suara keras langsung diberi label tidak beretika.

Sering kali yang disebut “tidak sopan” hanyalah karena kritik itu menyentuh titik yang paling sensitif: kekuasaan.

Pemimpin yang sehat seharusnya tidak sibuk menilai nada suara mahasiswa, tetapi fokus menjawab substansi persoalan yang mereka bawa.

Lebih ironis lagi ketika mahasiswa diminta belajar cara menyampaikan pendapat, seolah-olah mereka tidak paham etika, sementara banyak pejabat justru lupa etika paling mendasar: mendengar rakyat. Jangan ajari mahasiswa diam, ajari pemimpin untuk tidak anti kritik.

Karena sejarah bangsa ini tidak pernah berubah oleh tepuk tangan, tetapi oleh keberanian orang-orang muda yang memilih bersuara.

Kami berdiri bersama mahasiswa. Karena kampus bukan tempat mencetak generasi penurut, tetapi tempat melahirkan keberanian berpikir.

Jika suara mahasiswa mulai dianggap ancaman, mungkin yang bermasalah bukan mahasiswanya, tetapi telinga kekuasaan yang terlalu lama hanya terbiasa mendengar pujian.

Pemimpin harus siap dikritik. Jika kritik dianggap masalah, maka yang perlu diperbaiki bukan mahasiswa tetapi cara memimpin itu sendiri. (Red)***

REKOMENDASI BERITA

TINGGALKAN KOMENTAR