(Bagian Kedua) Masa Depan Pendidikan Indonesia Dalam Perspektif Sosiologi Di Era Revolusi Industri 4.0

Oleh: Langit Cilegon
201 views
A+A-
Reset

(Bagian Kedua)

Masa Depan Pendidikan Indonesia Dalam Perspektif Sosiologi Di Era Revolusi Industri 4.0

Oleh : Edi Muhammad Abduh Alhamidi, S.Sos, MM

Dosen FEB Universitas Bina Bangsa dan Pembina LPT NU Cilegon

II. Masa depan Pendidikan Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0

Perkembangan zaman membuat industri teknologi dan informasi semakin bergerak maju dan berkembang dengan pesat.. Revolusi industri 4.0 mampu mengubah segala sendi kehidupan masyarakat dari mulai pola perilaku, gaya hidup, cara orang berbelanja untuk memenuhi kebutuhan hidup, metode kerja dan transaksi keuangan, peluang bisnis dengan berbagai kompleksitas adaptasi dan tranformasi pengalaman hidup dalam aktivitas keseharian masyarakat Indonesia.

Kemajuan teknologi memungkinkan terjadinya otomatisasi hampir di semua bidang. Teknologi dan pendekatan baru yang menggabungkan dunia fisik, digital, dan biologi secara fundamental akan mengubah pola hidup dan interaksi manusia (Tjandrawinata, 2016).

Seiring berjalannya waktu, laju perkembangan revolusi industri 4.0 pun menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi, tidak hanya sumber daya manusia yang mumpuni dalam penguasaan IPTEK, peralatan atau tools yang harus lengkap, akan tetapi yang lebih besar tantangan itu adalah penyebaran wabah covid – 19, dimana semua sendi kehidupan seolah perlahan mulai terjadi keterlambatan bahkan cenderung stagnan bila tidak disikapi dengan pemikiran yang inovatif di bidang bisnis.

Di tengah berkecamuknya kehidupan masyarakat karena merebaknya virus corona, membuat setiap orang hidup dalam ketidakpastian (uncertainty) global, oleh karena itu kita harus memiliki kemampuan untuk berinovasi dengan menciptakan ide bisnis yang sesuai dengan kondisi saat ini. Bahkan setiap negara harus merespon perubahan alam dan persaingan teknologi secara terintegrasi dan komprehensif.

Respon tersebut dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan politik global, mulai dari sektor publik, swasta, akademisi, hingga masyarakat sipil sehingga tantangan pandemic covid – 19 di era revolusi industri 4.0 dapat dikelola menjadi peluang.

Wolter mengidentifikasi tantangan revolusi industri 4.0 sebagai berikut;

1) masalah keamanan teknologi informasi;

2) keandalan dan stabilitas mesin produksi;

3) kurangnya keterampilan yang memadai;

4) keengganan untuk berubah oleh para pemangku kepentingan; dan

5) hilangnya banyak pekerjaan karena berubah menjadi otomatisasi.

Pendidikan memiliki peran sentral bagi upaya pengembangan sumber daya manusia. Adanya peran yang demikian, isi dan proses pendidikan perlu dimutakhirkan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebutuhan masyarakat.

Tujuan pendidikan nasional selalu menyesuaikan diri dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Sejalan dengan itu, tentu dalam rangka proses mempersiapkan sumber daya manusia yang diorientasikan dalam tujuan nasional pendidikan juga selalu berorientasi pada perkembangan IPTEK.

Dalam proses mempersiapkan sumber daya manusia inilah peran guru dan dosen sangat penting. Oleh karena itulah, guru dan dosen juga harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menyongsong revolusi industry 4.0.

Keberhasilan dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat tidak terlepas dari program peningkatan komitmen bersama antara lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, pemerintah dan pemerintah daerah dalam upaya membangun dan memberdayakan semua komponen masyarakat.

Tuntutan akan peran besar pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa tidak terelakkan lagi. Lembaga pendidikan harus benar-benar berusaha semaksimal mungkin dan mengoptimalkan segala sumber daya yang dimiliki untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut di atas.

Lebih khusus di pendidikan tinggi, demi menjamin terlaksananya proses pendidikan yang berkualitas maka perguruan tinggi sebagai lembaga sosial memiliki ewajiban moral tidak hanya pada proses pendidikan tetapi juga dalam pelaksanaan penelitian serta pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan isi yang terkandung dalam tri dharma perguruan tinggi dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang “Sistem Pendidikan Nasional” pasal 20 ayat (2) yang menyebutkan bahwa “perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam perkembangan dari masa ke masa, upaya memajukan dunia pendidikan diperlukan sebuah sistem pendidikan yang bertujuan mempersatukan keseluruhan karya insani yang terbentuk dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan fungsional dalam mencapai tujuan pendidikan.

Pendidikan adalah proses perubahan pola pikir, apresiasi dan pembiasaan manusia agar menjadi manusia. Sekolah merupakan salah satu kelembagaan satuanpendidikan. Walaupun kebanyakan orang sering mengidentikan sekolah dengan pendidikan, pendidikan merupakan wahana perubahan peradaban manusia.

Manakala membicarakan sistem pendidikan tidak cukup hanya membahas sistem persekolahan, sehingga untuk membicarakan pemasaran pendidikan pun sesungguhnya tidak cukup dengan hanya membahas terbatas pada pemasaran persekolahan. Karena paradigma pendidikan yang begitu universal tidak hanya dipandang secara terbatas pada system persekolahan.

Menurut Yoyon Bachtiar Irianto (2016) menyebutkan bahwa pendidikan merupakan produk jasa yang dihasikan dari lembaga pendidikan yang bersifat non profit, sehingga hasil dari proses pendidikan kasad mata. Untuk mengenal lebih dalam dari pemasaran pendidikan maka kita harus mengenal terlebih dahulu pengertian dan karakteristik jasa dan konsep pemasaran sehingga penerapan konsep pemasaran pendidikan ada pada posisi yang tepat sesuai dengan nilai dan sifat dari pendidikan itu sendiri.

Pentingnya interaksi sosial yang merupakan kunci dari semua kehidupan sosial. Kenapa? karena tanpa ada interaksi sosial tak mungkin ada kehidupan bersama. Interaksi sosial bukan hanya bertemu belaka namun berusaha menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan hidup baru akan terjadi apabila orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia bekerja sama, saling berbicara, menukar pengalaman/pikiran/pandangan, mengadakan persaingan, dan bahkan mengadakan pertikaian. Interaksi sosial, harus mencapai pada taraf reaksi pihak lain (si A ketemu si B, maka si B harus bereaksi untuk merespon si A). Jika tidak, interaksi sosial tidak terjadi. Oleh karena itu, interaksi didasarkan oleh berbagai faktor:

* Faktor Imitasi

* Faktor Sugesti

* Faktor Identifikasi, dan

* Faktor Simpati

 

(Bersambung-Red)***

REKOMENDASI BERITA

TINGGALKAN KOMENTAR