BPBD Cilegon Gelar Apel Siaga, Damanhuri : Good Disaster Management Plan

Oleh: Langit Cilegon
7 views
A+A-
Reset

CILEGON, (LC)- Pemerintah Kota Cilegon melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggelar apel siaga dihalaman kantor BPBD Cilegon, Kamis, 23 April 2026.

Kegiatan apel siaga bencana dihadiri oleh TNI Polri, Damkar, Para Camat, sejumlah Lurah, perwakilan OPD, para relawan, para ketua RW serta instansi terkait lainnya.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Cilegon Damanhuri dalam sambutannya mengatakan, Kota Cilegon memiliki wilayah multi ancaman bencana, baik bencana alam maupun non alam.

“Menurut kajian risiko bencana, terdapat 11 ancaman risiko bencana. yang memiliki dampak terbesar adalah bencana gempa bumi yang di susul oleh bencana tsunami dan kegagalan teknologi serta banjir,”katanya.

Kota Cilegon, ujar dia, memiliki wilayah hutan, lahan dan wilayah perbukitan, sehingga menjadi ancaman terjadi kebakaran hutan dan lahan.

“Serta ancaman kekurangan air kekeringan di pemukiman wilayah perbukitan, yang diprediksi tahun ini ada kemarau panjang akibat el nino,”ujarnya.

Bencana alam maupun non alam, ujar dia, memang tidak bisa di tolak. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana upaya kita semua untuk dapat meminimalisir dampak yang mungkin terjadi akibat bencana yaitu kerugian harta benda dan korban jiwa.

“Bahwa tanggap bencana merupakan panggilan kemanusiaan dan menjadi tanggung jawab kita bersama selaku masyarakat,” tuturnya.

Pihaknya mengajak untuk mengubah sudut pandang atau paradigma penanggulangan bencana bukan bersifat responsif, melainkan prefentif.

“Kegiatan apel siaga bencana ini merupakan salah satu langkah pemerintah daerah untuk membuat “good disaster management plan” karena penanganan bencana yang tepat dapat miminimalkan jumlah kurugian harta benda dan kehilangan korban jiwa,” ucapnya.

Kepala Bidang Kesiapsiagaan BPBD Cilegon, Oman Faturahman, mengatakan informasi atau himbauan yang dilakukan oleh BPBD Cilegon sebagai leading sektor kebencanaan harus diterima dengan baik dan menjadi tolak ukur pengurangan risikonya. sehingga kita bisa siap untuk selamat dari bencana.

“Artinya sebelum terjadi bencana, kita sudah harus melakukan upaya-upaya yang bisa meminimalisir dampak. Hal-hal kecil yang bisa di lakukan contohnya gerakan menanam pohon di lereng gunung atau daerah perbukitan secara masif agar tidak terjadi pergerakan tanah atau yang biasa kita sebut dengan bencana longsor,”ungkapnya.

(Anto-Red)***

REKOMENDASI BERITA

TINGGALKAN KOMENTAR