CILEGON, (LC),- Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Cilegon setelah sukses menggelar berbagai kegiatan seperti Genre Wariors, kini bersama PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi (UIT) Jawa Bagian Barat memperkuat kesiapsiagaan masyarakat melalui pembentukan Perempuan Tangguh Bencana di Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, Jumat,31 Juli 2026
Program tersebut merupakan bagian dari kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan kapasitas warga dalam menghadapi potensi bencana sekaligus memperkuat peran perempuan sebagai ujung tombak mitigasi di tingkat keluarga dan lingkungan.
Ketua FPRB Kota Cilegon Hasbi Sidik, melalui Bendahara Umum FPRB Nur Irwantoro, mengatakan pengurangan risiko bencana merupakan upaya sistematis untuk mengidentifikasi, mengkaji, dan mengurangi berbagai risiko guna menekan kerentanan sosial, ekonomi, maupun lingkungan akibat bencana.
“Kerja sama dengan PLN ini bukan yang pertama. Sebelumnya kami juga telah berkolaborasi melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), baik dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia maupun pembangunan infrastruktur pendukung kebencanaan,” kata Irwantoro.
Ia menuturkan, salah satu ancaman yang rutin terjadi adalah banjir, meski kondisi drainase di Cilegon dinilai mampu mempercepat aliran air sehingga dampaknya relatif lebih terkendali. Meski demikian, kata dia, kesiapan sumber daya manusia tetap menjadi faktor penting dalam upaya mitigasi.
“Karena itu, FPRB bersama PLN membentuk Perempuan Tangguh Bencana sebagai bagian dari penguatan kapasitas masyarakat,” ujarnya.
“Saat ini sudah ada ratusan Perempuan Tangguh Bencana di Kecamatan Pulomerak. Mereka memiliki tugas melakukan mitigasi risiko, memperkuat ketahanan keluarga, memimpin aksi tanggap darurat di lingkungan sekitar, memberikan edukasi keselamatan, hingga mendukung proses pemulihan pascabencana,” sambung Nur Irwantoro.
Sementara itu, Senior Manager Keuangan, Komunikasi, dan Umum PT PLN (Persero) UIT Jawa Bagian Barat, Ayuningtyas Prihartini, mengatakan, PLN mendapat amanah untuk menjalankan program sosial di seluruh wilayah kerja, termasuk Kota Cilegon.
“Kami berharap melalui program Perempuan Tangguh Bencana ini para ibu dan perempuan di Cilegon memiliki pengetahuan mengenai langkah yang harus dilakukan ketika terjadi bencana serta mampu memberikan kontribusi nyata dalam penanganan di lingkungannya,” kata Ayuningtyas.
Ia menegaskan, komitmen PLN dalam penanggulangan bencana tidak hanya dilakukan saat kondisi darurat, tetapi juga melalui upaya pencegahan dan peningkatan pengetahuan masyarakat sebelum bencana terjadi.
“Yang terpenting adalah masyarakat memiliki pemahaman dan kesiapan sejak dini. Jadi tidak perlu menunggu bencana datang baru bergerak,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Banten Asep Mulya Hidayat mengapresiasi kolaborasi yang dibangun antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan media dalam pengurangan risiko bencana.
“Kegiatan ini merupakan implementasi nyata kolaborasi pentahelix yang menjadi salah satu kunci keberhasilan penanggulangan bencana. Semua unsur terlibat dan saling mendukung,” katanya.
Asep menilai pelibatan perempuan merupakan bagian penting dari penanggulangan bencana yang inklusif dengan prinsip no one left behind atau tidak ada satu pun kelompok yang tertinggal.
“Program ini menjadi salah satu pelopor komunitas Perempuan Tangguh di Kota Cilegon dan diharapkan dapat berkembang ke daerah lain di Provinsi Banten,” ungkapnya.
(Mang Jeo-Red)*
