Yayasan Asiatul Jannah Al Bantani Sukses Gelar Ajang Babad Cilegon, Begini Konsepnya

Oleh: Langit Cilegon
9 views
A+A-
Reset

CILEGON, (LC) — Di tengah masifnya gempuran gawai dan permainan digital yang kian menyita perhatian generasi muda, Yayasan Asiatul Jannah Al Bantani mengambil langkah nyata dalam merawat kearifan lokal.

Yayasan tersebut sukses menggelar ajang edukatif dan rekreatif bertajuk Babad Cilegon. Sebuah ruang kreatif bagi anak-anak untuk mengenal kembali sejarah daerah serta merayakan keceriaan permainan tradisional.

Mengusung konsep edukasi berbasis kebudayaan, ajang ini mengkombinasikan kreativitas seni anak melalui lomba mewarnai toponimi cerita rakyat dengan ketangkasan bermain daku (congkak) dan ular tangga raksasa.

Ketua Yayasan Asiatul Jannah Al Bantani, H. Ahdi Zukhruf Amri, menegaskan bahwa penamaan serta materi acara ini tidak dipilih secara sembarangan.

Menurutnya, pemahaman mengenai toponimi atau asal-usul sejarah nama tempat melalui cerita rakyat sangat penting untuk menumbuhkan identitas dan rasa bangga anak-anak terhadap daerah asalnya.

“Anak-anak zaman sekarang kerap lebih familiar dengan karakter animasi luar ketimbang legenda dan sejarah daerahnya sendiri. Melalui lomba mewarnai topomini cerita rakyat serta permainan tradisional seperti daku dan ular tangga besar, kami ingin anak-anak di Cilegon mengenal nilai-nilai kearifan lokal sekaligus memperkuat interaksi sosial secara langsung,” kata Ahdi.

Ia menuturkan, interaksi langsung dalam permainan tradisional menjadi benteng penting untuk melatih kecerdasan emosional dan kemampuan bersosialisasi yang kerap tergerus akibat dominasi gim daring.

Tak berhenti di sini, Ahdi mengungkapkan rencana jangka panjang yayasan dalam melestarikan budaya di lingkungan pendidikan.

“InsyaAllah ke depan kami akan berkolaborasi dengan balai, badan, maupun dinas terkait di bidang kebudayaan untuk menghadirkan program Babad Cilegon Goes to School,” ujarnya.

Ajang Babad Cilegon menghadirkan tiga perlombaan utama yang dirancang ramah anak dan penuh edukasi:

1.Lomba Mewarnai Toponimi Cerita Rakyat: Anak-anak diajak mengekspresikan imajinasi dan warna pada visual cerita sejarah lokal, sehingga narasi budaya dapat terserap secara intuitif.

2.Lomba Daku (Congkak): Membangkitkan kembali permainan papan tradisional yang sarat akan nilai kejujuran, konsentrasi, strategi, dan perhitungan matematika sederhana.

3.Lomba Ular Tangga Besar: Mengubah permainan meja klasik menjadi papan raksasa di area terbuka yang menuntut ketangkasan fisik, keterlibatan aktif, serta kerja sama tim.

Kegiatan ini berlangsung meriah pada Minggu, 25 Oktober 2026, pukul 08.00 – 11.00 WIB, bertempat di Rumah Belajar AJB Foundation, Lingkungan Tegal Wangi, Kelurahan Rawa Arum, Kecamatan Gerogol, Kota Cilegon, Banten.

Kemeriahan acara makin terasa dengan hadirnya penampilan spesial dari pendongeng Pakde Wowo, yang membawakan cerita rakyat lokal tentang Kebo Gerem.

Anak-anak beserta orang tua pendamping tampak antusias menyimak kisah bernilai sejarah tersebut.

Acara ini juga dihadiri oleh Ketua RT 01/RW 06, Kang Deden, perwakilan Bimbel Al Bantani, Sultoniyah, serta puluhan orang tua yang setia mendampingi putra-putri mereka sepanjang kegiatan.

Ketua Pelaksana Babad Cilegon, Eri Firmansyah, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran acara dan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat.

“Konsep acara ini kami buat sehangat dan seinteraktif mungkin. Kami tidak hanya mengejar siapa yang menang atau kalah, tetapi bagaimana anak-anak bisa pulang membawa kebahagiaan, teman baru, serta wawasan baru tentang kekayaan budaya tempat tinggal mereka,” ungkapnya.***

(Anto-Red)***

REKOMENDASI BERITA

TINGGALKAN KOMENTAR